Cerita terbaru

Kisah Nyata Pengakuan Kain Kafan Jumat Kliwon Pesugihan


Cerita Instant
- Madiun boleh jadi menjadi kota Perdagangan dan Industri yang disingkat kota GADIS. Namun, cerita mistis tidak pernah hilang dari kota ini, apalagi tragedi tahun 1965 menambah cerita yang tidak ada, diada-adakan. Namun, tidak dengan cerita kisah nyata pengakuan kain kafan jumat kliwon pesugihan dari Pak Jumadi yang kini tampak renta.

Aku tinggal di kos yang berjarak lima rumah dari kediamannya. Cerita tentang bapak itu sudah banyak menjadi buah bibir, namun tidak lagi terasa asing olehku saat aku mulai dekat dengan penjual nasi bungkus di sekitar kosanku.

Seperti yang selalu kulihat, pak Jumadi selalu duduk di teras rumahnya dengan tatapan kosong dan membungkuk. Ditemani teh hangat yang dibuat oleh anak terakhirnya, nomor lima. Entah siapa namanya. Sisa anaknya meninggal dunia di usia remaja antara 17 hingga 21. Kejadian yang mereka alami pun hampir-hampir sama. Meninggal karena tertabrak oleh truk. Sedangkan anggota keluarganya seperti tidak begitu peduli dan hanya sesekali menjenguknya.

* Kebenaran Pak Jumadi
Saat ini, usia pak Jumadi masih 58, namun wajahnya hampir seumur 70 tahun. Apalagi bentuk fisiknya yang kian membungkuk. Setidaknya begitu kata Pak Hasan, penjual nasi samping kosku. Kata Pak Hasan, Pak Jumadi tersebut mengalami keganjilan di penyakitnya. Menurut dunia medis, ia tidak mengalami sakit yang terlalu serius dan ada pula yang berkata osteoporosis akut.

Namun, penyakit tersebut tidak banyak diderita oleh pria, apalagi orang semuda Kang Jumadi.
Hingga banyak yang menduga bahwa keadaan Pak Jumadi karena tingkahnya sekitar 10 tahun lalu. Dia mengambil kain kafan jumat kliwon untuk pesugihan dari pekuburan.

Keadaannya memang berubah drastis. Dia hanya bekerja sebagai pedagang bakso keliling, tapi tidak lebih dari 3 tahun, dia bisa membuka warung bakso di sekitar jalan Dharmawangsan, dan dua di sekitar setasiun Madiun dan samping Lanut AU.
Namun, kurun waktu tiga tahun itu pula ia kehilangan tiga anaknya.




disusul anak keempat dan istrinya tiga tahun berturut-turut. Pada tahun ke sepuluh, ia seperti orang yang tak peduli dengan apapun. Ia hanya berkata bahwa ia ingin bersama anak terakhirnya.  Di tahun itu pula. Seluruh apa yang ia miliki seperti kena masalah. Warung pertama terkena gusur pembangunan stasiun. Yang kedua terkena angin puting beliung, dan warung pusat tak ada yang mengurus. Tak perlu waktu lama, semua yang ia miliki benar-benar bangkrut.

Selang beberapa hari, aku pun melewati rumahnya lagi dan pak Jumadi sedikit mendongak dan melihatku. Aku pun mengangguk dan sedikit membungkukkan badan tanda berkata ‘permisi’. Namun, dia memintaku untuk melambaikan tangannya. Aku pun kaget dan menghampirinya. Tanpa basa basi, ia pun menanyaiku perihal latar belakang dan keakrabanku dengan Pak Hasan.

ama sekali aku tak merasa curiga hingga ia mengungkapkan cerita kisah nyata pengakuan kain kafan jumat kliwon pesugihan. Meski ia telah bertaubat, namun masih ada konsekuensi yang harus ia jalani. Meski suaranya parau dan tubuhnya membungkuk. Pak Jumadi tetap lancar berbicara. Dia memintaku untuk melihat pundaknya dan aku melihat warna kebiru-biruan seperti orang habis terkena pukul. Dia memberiku pesan sebelum mengusirku bahwa jalani hidup seadanya lebih menyenangkan daripada mencari pintasan. Karena pintasan selalu meminta konsekuensi.

Akhirnya, aku pun undur diri dan tak berniat untuk ke tampak Pak Hasan. Sewaktu berjalan, aku mengambil HP di saku.Naas, HPku terjatuh dan aku pun mengambilnya. Dari sekelebat di bawah selangkanganku, aku melihat sesosok wanita yang ngangkang di pundak pak Jumadi. Berjalan sok santai, aku pun segera pergi dan memutuskan untuk segera pindah kos.Aku pun menyadari bahwa cerita kisah nyata pengakuan kain kafan jumat kliwon pesugihan dari pak Hasan memang benar.