Cerita terbaru

Cerita Instant - Pendaki Misterius Kaki Gunung Salak




CERITA INSTANT - Salam Lestari!!! Gunung Salak, semua orang bisa melihatnya dengan jelas ketika berada di sekitaran Bogor Selatan, Sukabumi Barat, atau sebelah kanan ujung jalan Tol Jagorawi dari arah Jakarta. Banyak cerita luar biasa dari para pendaki, warga, maupun yang pernah berkemah di sekitaran gunung tersebut.




Memang Gunung Salak seolah menunjukan kemegahan alam karena hanya berdiri sendiri ibarat puncak stupa Borobudur di mana di bagian yang lebih rendah terdapat stupa-stupa yang lebih kecil yaitu pegunungan Halimun Salak berupa barisan pegunungan dan bukit-bukit sampai ke arah pantai selatan, melalui Bogor Selatan, Sukabumi dan Banten. Barisan pegunungan ini disebut-sebut sebagai salah satu ring of fire Indonesia, jalur gempa dan celah vulkanik sebagai dampak dari benturan lempeng bumi yang saling bertumbukan maupun bergesekan.

Singkat cerita, sekitar tahun 2013 keluarga besar saya ingin berkemah di kaki gunung Salak tepatnya perkemahan sekitar kaki gunung Salak saja karena untuk menuju puncak gunung secara mental kami belum siap. Sengaja berkunjung satu hari setelah tahun baru karena orang-orang pastinya sudah turun gunung pasca perayaan tahun baru sehingga kami yakin pasti area perkemahan lebih sepi dan lebih terasa suasana alaminya.

Yang kami yakini ternyata benar, area perkemahan sangat sepi dan bersih karena baru dibersihkan secara total oleh pengelola pasca acara tahun baru. Untungnya rumah-rumah penduduk lokal yang mencari nafkah 24 jam sebagai pemilik warung-warung penjaja minuman dan makanan ringan masih beroperasi meskipun sepi pengunjung. Di tulisan ini saya tidak akan menyebutkan lokasi area perkemahan dan jalur pendakian kaki gunung demi menjaga nama baik dan kredibilitas pengelola perkemahan yang menurut saya sudah profesional.



CERITA INSTANT - Untuk menghilangkan suntuk karena malam-malam hanya acara bakar-bakaran saja, kami berfoto ria dan tertawa bersama mendengar cerita-cerita ringan dari salah satu anggota keluarga. Satu malam kami lewati dengan tidur lelap biarpun sesekali terlihat cahaya senter penjaga keamanan menyorot tenda dan mengusir anjing-anjing hutan yang mengaung bersahut-sahutan dan kerapkali datang mengelilingi tenda juga mengacak-acak alat dapur pasca bakar-bakaran tadi.



Paginya kami bangun dan shalat subuh kesiangan. Sesekali kami berfoto dengan latar belakang foto matahari terbit diantara celah puncak gunung nunjauh di sana yaitu Gunung Gede Pangrango di timur laut yang sangat jelas terlihat dari area perkemahan. Hasil foto barusan dan semalam tak sabar kami buka di mode display atau gallery.

Di sinilah letak keanehan terjadi, hampir semua hasil foto kami semalam yang diambil dari kamera DLSR penuh dengan efek bokeh warna merah dan oranye serta silhuette merah. Kami tetap berpikir positif karena efek api unggun biarpun kamera sudah disetting mode untuk pemandangan alam malam minim cahaya dan mode default dengan flash blitz sekalipun.

Yang mengejutkan adalah pada foto lainnya tampak ada beberapa sosok menyerupai wajah merah manusia bertaring, kepala harimau dan ular naga. Saya dan saudara yang melihat langsung hasil jepretan semalam tidak memberitahukan penampakan-penampakan itu ke anggota keluarga yang lain demi menjaga keceriaan acara kemah keluarga ini.

Siang harinya trek alam kami jajal dengan tujuan air terjun. Beberapa air terjun kami singgahi. Luar biasa indahnya, walaupun terik tapi tetap terasa teduh karena kanopi alam berupa pohon-pohon besar dan akar-akar raksasa yang bergelantungan. Perjalanan kami diam-diam diikuti oleh sejumlah orang pengelola untuk menjamin keselamatan trek bahaya yang akan kami lalui.

Trek yang kami lewati benar-benar jalan setapak yang beberapa sudah licin tergerus mata air dari celah-celah tanah dan sebagian tertimbun tanah longsoran. Sebenarnya trek ini adalah trek lama yang lebih panjang dari trek baru yang disarankan tim pengelola, semua trek adalah memutar yang tujuannya kembali ke perkemahan hanya saja karena yang dilalui adalah trek tr